Selasa, 23 Juli 2013
~ JANGAN MARAH ~
Rosulullah ketika ada seorang laki-laki mendatangi, lalu berkata, “Ya Rosulullah, berilah aku nasehat”. Rosulullah bersabda, “Jangan marah”. Lelaki itu mengulangi permintaannya beberapa kali, namun Rosulullah tetap menjawab, “Jangan marah: (HR Bukhari).
Belakangan ini sering terjadi kerusuhan, tawuran, dan tindakan anarkis. Sudah pasti hal ini diawali oleh emosi yang tak terkendali. Orang yang kuat dalam Islam adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya. Agar tidak marah, kita harus mengingat Allah dan bersikap toleran. Obat manjur ketegangan jiwa adalah sikap toleran. Dalam ilmu jiwa, akar dari emosi adalah ketidakpuasan terhadap sesuatu. Saat berlindung kepada Allah dari syaitan, berarti dia mengakui bahwa emosa dapat dihalau dengan cara meyakini mengenai kebaikan dan keburukan yang semuanya dating dari Allah, dan dia harus selalu ridha dengan ketentuan-Nya. Saat Rosulullah melihat seseorang sedang marah, beliau bersabda, “Aku akan ajarkan kalimat-kalimat bila dia membacanya akan hilang kemarahannya. Bila dia mengucapkan, “A’udubillahi minas syaithaanir rojiim” pasti akan hilang amarahnya” (HR Bukhari dan Muslim). Dan dengan memohon perlindungan Allah, niscaya akan menghasilkan ketenteraman hati. “Bila kamu marah dalam keadaan berdiri, hendaklah duduk. Bila kemarahan masih belum hilang, hendaklah berbaring” (HR Ahmad).
Dampak kemarahan itu akan semakin parah saat dalam keadaan berdiri, karena semua urat dan otot mengencang sehingga meningkatkan jumlah hormone adrenalin. Keadaan seperti ini dapat mengakibatkan penyakit kanker. Berbeda dengan keadaan duduk, adrenalin akan menurun. Berdasarkan hasil penelitian modern menyimpulkan bahwa kemarahan berulang-ulang dapat memperpendek umur, karena diserang berbagai penyakit kejiwaan dan penyakit jasmani. Secara psikologis dan medis, kemarahan merupakan suatu sikap emosional yang berdampak negatif pada jantung. Saat marah, terjadi perubahan fisioloogis seperti meningkatnya hormone adrenalin yang akan mempengaruhi kecepatan detak jantung dan menambah penggunaan oksigen. Kemarahan akan memaksa jantung memompakan darah lebih banyak sehingga dapat mengakibatkan tingginya tekanan darah. Akibatnya dapat fatal bila pemarah tersebut memiliki penyakit darah tinggi atau jantung.
Sebenarnya Rosulullah telah mengajarkan agar umatnya tidak diperkenankan marah bila dalam keadaan apa pun. Ketika Rosulullah berjalan bersama Anas, tiba-tiba ada seorang Badui mengejar dan serta merta menarik sorbannya dengan keras. Anas berkata, “Aku melihat bekas tarikan sorban kasar itu pada leher Rosulullah”. Lalu orang Badui itu berkata, “Wahai Muhammad, berilah aku dari harta Allah yang ada padamu”. Rosulullah menoleh sambil tersenyum, lalu memerintahkan sahabat agar memberikan harta yang cukup banyak kepadanya. Sikap Rosulullah ini menggambarkan bahwa betapa hebatnya kemampuan beliau dalam mengendalikan emosi meski disakiti, tetapi tidak marah. Karena kemarahan merupakan akhlak yang tercela dimana ketegangan jiwa yang muncul akibat penolakan terhadap apa yang tidak diinginkan, atau bersikukuh dengan pendapat tertentu tanpa melihat kesalahan atau kebenarannya. Untuk itu perlu kiranya pembinaan dan membangun akhlak yang terpuji agar kehidupan antar sesama manusia menjadi indah.
Yuk, kita memperbaiki diri..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar