Jumat, 26 Juli 2013

" Pilihlah Ta’aruf Jangan Pacaran "



Karena...

Pertama, ta’aruf itu sebenarnya hanya untuk
penjajagan sebelum menikah. Jadi kalau salah
satu
atau keduanya nggak merasa sreg bisa
menyudahi
ta’arufnya. Ini lebih baik daripada orang yang
pacaran lalu putus. Biasanya orang yang
pacaran
hatinya sudah bertaut sehingga kalau tidak
cocok
sulit putus dan terasa menyakitkan. Tapi
ta’aruf,
yang Insya Allah niatnya untuk menikah Lillahi
Ta’ala, kalau tidak cocok bertawakal saja,
mungkin
memang bukan jodoh.
Tidak ada pihak yang dirugikan maupun
merugikan.

Kedua, ta’aruf itu lebih fair. Masa penjajakan
diisi
dengan saling tukar informasi mengenai diri
masing-
masing baik kebaikan maupun
keburukannya. Bahkan
kalau kita tidurnya sering ngorok, misalnya,
sebaiknya diberitahukan kepada calon kita
agar tidak
menimbukan kekecewaan di kemudian hari.
Begitu pula dengan kekurangan-kekurangan
lainnya,
seperti mengidap penyakit tertentu, enggak
bisa
masak, atau yang lainnya.
Informasi bukan cuma dari si calon langsung,
tapi
juga dari orang-orang yang mengenalnya
(sahabat,
guru ngaji, orang tua si calon). Jadi si calon
enggak
bisa ngaku-ngaku dirinya baik. Ini berbeda
dengan
orang pacaran yang biasanya semu dan
penuh
kepura-puraan. Yang perempuan akan
dandan habis-
habisan dan malu-malu (sampai makan pun
jadi
sedikit gara-gara takut dibilang rakus). Yang
laki-
laki biarpun lagi bokek tetap berlagak kaya
traktir
ini itu (padahal dapet duit dari minjem temen
atau
hasil ngerengek ke ortu tuh) hehehe..

Ketiga, dengan ta’aruf kita bisa berusaha
mengenal
calon dan mengumpulkan informasi
sebanyak-banyak
nya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Hal ini
bisa terjadi karena kedua belah pihak telah
siap
menikah dan siap membuka diri baik
kelebihan
maupun kekurangan. Ini kan penghematan
waktu
yang besar.
Coba bandingkan dengan orang pacaran
yang sudah
lama pacarannya sering tetap merasa belum
bisa
mengenal pasangannya.
Bukankah sia-sia belaka?

Keempat, melalui ta’aruf kita boleh
mengajukan
kriteria calon yang kita inginkan. Kalau ada
hal-hal
yang cocok Alhamdulillah tapi kalau ada yang
kurang
sreg bisa dipertimbangan dengan memakai
hati dan
pikiran yang sehat.
Keputusan akhir pun tetap berdasarkan
dialog dengan
Allah melalui sholat istikharah. Berbeda
dengan
orang yang mabuk cinta dan pacaran. Kadang
hal
buruk pada pacarnya, misalnya pacarnya suka
memukul, suka mabuk, tapi tetap bisa
menerima
padahal hati kecilnya tidak menyukainya. Tapi
karena cinta (atau sebenarnya nafsu)
terpaksa
menerimanya.

Kelima, kalau memang ada kecocokan,
biasanya
jangka waktu ta’aruf ke khitbah (lamaran)
dan ke
akad nikah tidak terlalu lama. Ini bisa
menghindarkan kita dari berbagai macam
zina
termasuk zina hati. Selain itu tidak ada
perasaan
”digantung” pada pihak perempuan.

Karena semuanya sudah jelas tujuannya
adalah untuk
memenuhi sunah Rasulullah yaitu menikah.
Keenam, dalam ta’aruf tetap dijaga adab
berhubungan
antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada
pihak
ketiga yang memperkenalkan.

Jadi kemungkinan berkhalwat (berdua-
duaan) kecil
yang artinya kita terhindar dari zina.
Nah ternyata ta’aruf banyak kelebihannya
dibanding
pacaran dan Insya Allah diridhoi Allah. Jadi…
kita
mau mencari kebahagian dunia akhirat dan
menggapai ridhoNya atau mencari kesulitan,
mencoba-coba melanggar dan mendapat
murkaNya..

Hayoh udah putusin aja untuk taaruf atau
nikah dari pada terus terusan maksiat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar